Laman

adnet

  • buku

Senin, 07 Februari 2011

PROSA FIKSI

KAJIAN PROSA FIKSI

1.          Pengertian Prosa
Pengertian luas : prosa menyangkut semua karya tulis yang ditulis bukan dalam bentuk puisi atau drama, tiap baris dimuali dari margin kiri penuh sampai ke margin kanan. Dalam hal ini prosa meliputi karya fiksi (sastra) maupun non fiksi seperti berita dalam surat kabar.
Pengertian sempit. Prosa adalah karya imajiner dan estetik. Dalam kesusasteraan juga disebut fiksi, teks naratif, wacana naratif.

2.          Pengertian fiksi
Fiksi artinya cerita rekaan atau cerita khayalan. Isinya tidak menyarankan pada kebenaran sejarah. Istilah fiksi sering dipertentangkan dengan realitas. Tokoh, peristiwa dan tempat dalam fiksi adalah rekaan imajinatif pengarang. Namun demikian, cerita, tokoh dan latar rekaan pengarang itu dibuat seakan-akan benar adanya dalam dunia  nyata dan masuk akal dalam hubungan-hubungan kehidupan manusia.

3.          Kebenaran dalam fiksi
Kebanaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang. Kebenaran dalam fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran dalam dunia nyata.

4.          Cerita fiksi
Sekalipun fiksi sebuah cerita rekaan, akan tetapi cerita fiksi adalah mengisahkan kehidupan manusia dengan segala permasalahannya. Perbedaan kisah-kisah dalam fiksi dengan kisah kehidupan manusia dalam dunia nyata adalah adanya ketegangan-ketegangan dalam cerita rekaan.dengan demikian cerita dalam fiksi selain terkandung tujuan menghibur juga bernilai estetik sehingga pembaca memperoleh kepuasan batin. Jauh dari itu manfaat yang diperoleh dari membaca fiksi bahwa pembaca dapat menikmati cerita, terhibur, termotivasi emosionalnya, belajar, merasakan, menghayati berbagai permasalahan kehidupan manusia. Pada akhirnya dengan pembaca dapat merenungkan masalah hidup dan kehidupan. Dengan membaca cerita yang disuguhkan dengan imajinatif, kreatif daan estetik dapat membuat manusia menjadi lebih arif atau dapat “memanusiakan manusia”
Dengan demikian manfaat cerita sastra: menghibur, memberi pelajaran, dan mendidik manusia memahami kehidupan manusia.

5.          Permasalahan dalam kehidupan manusia.
Sekalipun cerita rekaan mengisahkan kehidupan manusia, namun harus tetap berada dalam kerangka sastra yaitu cerita yang dapat memikat atau memiliki daya tarik pembaca.
Dalam kehidupan ini manusia sering mengalami dua hal yang berlawanan yaitu kebahagiaan atau kesenangan dan kesengsaraan atau penderitaan.

Tugas untuk mahasiswa:

1.      Kemukakan hal apa saja yang menjadikan manusia bahagia?
2.      Kemukakan hal apa saja yang menjadikan manusia menderita?
3.      Kemukakan perilaku manusia yang membuat orang lain merasa senang/ setuju?
4.      Kemukakan perilaku manusia yang membuat orang lain merasa tidak senang atau benci?
5.      Kemukakan perilaku manusia yang berakibat orang lain menjadi bahagia?
6.      Kemukakan perilaku manusia yang berakibat orang lain menjadi sengsara?
7.      Hal apa saja yang menjadi bahan pertentangan atau perebutan diantara manusia?






WUJUD FIKSI

A.        Novel dan Unsur-Unsurnya
S. Suharianto (1997 : 40) mengatakan bahwa "Novel berbeda dengan cerita pendek. Masalah yang ingin ditampilkan oleh jenis karya sastra novel lebih luas ruang lingkupnya. Novel dapat mengungkapkan seluruh episode perjalanan hidup tokoh ceritanya".
Dalam Kamus Istilah Sastra, Sudjiman (2002 : 52), mengatakan bahwa "novel adalah proses rekaan yang panjang lebar, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar belakang secara tersusun. Novel dikatakan sebagai gambaran lingkungan masyarakat serta jiwa tokoh yang hidup pada suatu masa dalam masyarakat tertentu karena di dalam novel akan kita temui pula pelaku-pelaku yang akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari".
Dari pendapat beberapa pakar di atas dapat disimpulkan bahwa novel adalah karangan prosa yang menggambarkan kehidupan manusia sehari-hari dengan plot yang cukup panjang, merupakan gambaran tingkah laku manusia dalam kehidupan nyata. Gambaran kehidupan bisa saja hanya cerita rekaan. Dalam kehidupan dewasa ini,  novel memiliki kedudukan yang lebih baik dibanding dengan karya sastra lain karena dibuat, dibaca dan diperhatikan orang.

1.  Ciri-Ciri Novel
Ciri-ciri novel menurut Sumardjo dan Saini (2001 : 66) sebagai berikut.
a.  Plot :
Sebuah roman atau novel biasanya memiliki plot pokok, yakni batang tubuh cerita, ditambah rangkaian plot-plot kecil yang lain. Plot-plot kecil tadi hanyalah tambahan saja atau disebut anak plot yang harus merupakan kesatuan atau bersifat menjelaskan plot utama.
b. Tema :
Ada tema utama dan tema-tema sambungan yang fungsinya sama dengan plot di atas. Inilah sebabnya dalam roman atau novel, pengarang dapat membahas persoalan secara luas dan mendalam.
c. Karakter :
Tokoh-tokoh dalam novel atau roman bisa banyak tetapi bisa juga sedikit.  Ada kalanya memang hanya  melukiskan beberapa tokoh  saja, sedangkan tokoh yang lain hanya digambarkan sekilas, hanya untuk melengkapi penggambaran tokoh utama.

B.        Pengertian Cerita Pendek ( Cerpen )
Cerita pendek (Cerpen) sebagai manifestasi pergolakan jiwa pengarang terhadap peristiwa yang ditemui dan dihayatinya dalam masyarakat akan selalu memberikan sumbangan yang tidak ternilai harganya. Ia dapat memberikan pemikiran baru pada pelbagai aspek kehidupan, menyebabkan  timbulnya perubahan sikap dalam menilai suatu permasalahan. Segi kehidupan yang selalu menjadi sorotan pengarang cerpen berkisar sekitar kondisi-kondisi sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat dan tata nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat yang ada kaitannya dengan pembentukan kepribadian. Pembaca dibawanya ke arah sikap mental dan tata nilai yang diharapkan pengarang.
Misi cerpen dalam pembinaan kepribadian, terutama bagi generasi muda, adalah amanat penting karena derap kemajuan suatu bangsa dapat diukur sejauh mana karya sastrawan ikut mempermasalahkan kenyataan hidup masyarakat, di samping menyumbangkan pikiran-pikiran berupa ide pembaharuan pola kehidupan bangsa.
Dari uraian di atas, kita menyikapi cerpen sebagai suatu karya sastra sebagaimana batasan-batasan yang telah disumbangkan oleh para ahli sastra. Wilson Nadeak berpendapat bahwa ‘Cerita pendek  adalah suatu bentuk kesusastraan yang masih muda usia di Indonesia.’ (Sutawijaya dan Rumini, 1997 : 373).
Cerpen mengisahkan cerita pendek dari perjalanan hidup seorang tokoh yang diciptakan pengarang. Kisah perjalanan hidupnya hanya tertuju pada satu kisah yang menarik dari seluruh kehidupannya. Sejalan dengan itu, Badudu menyatakan bahwa ‘Cerita pendek adalah cerita yang menjurus tidak mengijinkan adanya degresi, ibarat orang dalam perjalanan, ia berjalan lurus menuju tujuan, tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan dalam perjalanannya.’ (Sutawijaya dan Rumini, 1997: 372).
Cerpen atau cerita pendek, karena pendeknya sehingga tersusun tidak lebih dari 10.000 kata. Hal ini diungkapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didapat batasan cerita pendek  “Sas  kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di suatu situasi (pada suatu ketika).” (Depdikbud, 1999 : 186). Lebih tegas lagi Nugroho Notosusanto dalam Tarigan (1994: 176) mengatakan bahwa "cerita-pendek adalah cerita yang panjangnya disekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri"
Masih dalam Tarigan (1994: 176), Ajip Rosidi memberi batasan dan keterangan bahwa ‘Cerpen atau cerita pendek adalah cerita yang pendek dan merupakan suatu kebulatan idea ……………………………………………………………………
……………………………………………………………....Dalam kesingkatan dan kepadatannya itu, sebuah cerpen adalah lengkap, bulat dan singkat. Semua bagian dari sebuah cerpen mesti terikat pada suatu kesatuan jiwa : pendek, padat, dan lengkap. Tak ada bagian-bagian yang boleh dikatakan "lebih" dan bisa dibuang.’

Selanjutnya Tarigan (1994:177) menarik kesimpulan bahwa ciri-ciri khas sebuah cerita pendek adalah sebagai berikut:
a.           Ciri-ciri utama cerita pendek adalah : singkat, padu, intensif (brevity, unity, intensity).
b.           Unsur-unsur utama cerita pendek adalah : adegan, tokoh, dan gerak (scene, character, and action).
c.           Bahasa cerita pendek haruslah tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incisive, suggestive, alert).
d.           Cerita pendek harus mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
e.           Sebuah cerita pendek harus menimbulkan satu efek dalam pikiran pembaca.
f.              Cerita pendek harus menimbulkan perasaan pada pembaca bahwa jalan ceritalah yang pertama-tama menarik perasaan, dan baru kemudian menarik pikiran.
g.           Cerita pendek mengandung detail-detail dan insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja, dan yang bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca.
h.           Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
i.              Cerita pendek harus mempunyai seorang pelaku yang utama.
j.              Cerita pendek harus mempunyai satu efek atau kesan yang menarik.
k.           Cerita pendek bergantung pada (satu) situasi.
l.              Cerita pendek memberikan impresi tunggal.
m.        Cerita pendek memberikan suatu kebulatan efek.
n.           Cerita pendek menyajikan satu emosi.

C.        Unsur Fiksi / Novel
Sebuah karya fiksi yang jadi  merupakan sebuah bangun cerita yang menampilkan sebuah dunia yang sengaja dikreasikan pengarang. Wujud formal fiksi itu sendiri hanya berupa kata, dan kata-kata. Karya fiksi menampilkan dunia dalam kata, bahasa di samping juga dikatakan menampilkan dunia dalam kemungkinan. Kata merupakan sarana terwujudnya bangunan cerita. Kata merupakan sarana pengucapan sastra.
Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu keseluruhan yang bersifat artistik.  Sebagai  sebuah totalitas,  novel  mempunyai  bagian-bagian, unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lain secara erat dan saling menggantungkan. Jika novel dikatakan sebagai sebuah totalitas, unsur kata, bahasa, kata inilah yang menyebabkan novel juga sastra pada umumnya menjadi terwujud.
Pembagian unsur yang dimaksud adalah unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Kedua  unsur inilah yang sering banyak disebut para kritikus dalam rangka mengkaji dan atau membicarakan novel atau karya sastra pada umumnya.
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau demikian, unsur-unsur ekstrinsik cukup berpengaruh.
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dan sudut kita sebagai pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah novel. Unsur-unsur tersebut ialah : peristiwa, cerita, tema, penokohan, plot, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa (Burhan Nurgiantoro, 1995 : 22-23).

a.         Tema dan Amanat
Tema adalah gagasan utama atau pikiran pokok sebuah karya sastra (Tarigan,2002: 7). Jika kita membaca cerita rekaan, sering merasa bahwa pengarang tidak hanya sekedar ingin menyampaikan sebuah cerita dengan bercerita saja. Ada sesuatu yang dibungkusnya dengan cerita. Ada suatu konsep sentral yang dikembangkan di dalam cerita itu. Alasan pengarang hendak menyampaikan cerita ialah hendak mengemukakan suatu gagasan. Menurut Sudjiman (2002: 50) bahwa yang disebut “tema ialah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari karya sastra.” Jadi dalam pengertian tema itu tercakup persoalan dan tujuan pengarang kepada pembaca.
Sedangkan yang dimaksud dengan “amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra.”   (Sudjiman, 2002 : 57).
Amanat merupakan kecenderungan dan keinginan pengarang yang disalurkan melalui tokoh-tokoh ceritanya, biasanya amanat mengesankan niat pengarang yang hendak menggurui pembaca. Amanat bisa berupa kata-kata mutiara, firman dan lainnya sebagai petunjuk untuk memberi nasehat. Amanat merupakan bagian yang tidak bisa di pisahkan dan merupakan bagian yang integral dari unsur-unsur karya sastra lainnya.

b.         Plot ( Alur cerita)
Salah satu  yang mendukung terbentuknya sebuah cerita adalah plot. Mengenai arti Plot ini telah muncul dalam berbagai definisi para ahli sastra. Umumnya definisi tersebut menuju pada pengertian yang sama cara  bagaimana menjalin sebuah kejadian dalam sebuah cerita, sehingga melalui kejadian itu akhirnya dapat dikemukakan maksud pengarang.
Alur bukan sekedar urutan cerita, melainkan merupakan hubungan sebab akibat peristiwa  yang satu dengan yang lainnya dalam sebuah cerita. Plot merupakan jalan cerita yang bergerak dari suatu permulaan (beginning), melalui suatu tengahan (meddle) menuju suatu akhir (ending). ‘ Plot adalah struktur gerak atau laku yang terdapat dalam fiksi atau drama.’ (Brooks dan warren dalam Tarigan, 2002 :126).
Demikian pula Tjahjono (1997: 107) menyadur beberapa pendapat.
1)          Rene wellek berpendapat bahwa plot itu merupakan setruktur penceritaan.
2)          Hudson berpendapat bahwa plot itu merupakan rangkaan kejadian dan perbuatan, rangkaian hal yang dikerjakan diderita oleh tokoh dalam cerita.
3)          Putu Arya Tirtawirya berpendapat bahwa plot itu, semacam selokan yang otomatis tergali dalam benak pengarang tempat menyalurkan peristiwa-peristiwa yang membanjir selaku imajinasi pengarang dikala memperoleh karunia inspirasi.
4)              M. Saleh Saad  mengatakan bahwa plot itu adalah sambung sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat atau kausalitas, plot tidak hanya mengemukakan  apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah  menjelaskan mengapa hal itu  terjadi.

Dari pendapat para ahli, penulis menyimpulkan bahwa plot adalah sruktur penceritaan dalam cerita atau fiksi yang didalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis.
Pada umumnya alur itu di bagi tiga jenis, pertama, alur ketat, yaitu jalinan peristiwa yang sangat terpadu sehingga kalau salah satu peristiwa ditiadakan  akan mengganggu keutuhan cerita ; kedua alur longgar, yaitu jalinan peristiwa yang tak begitu terpadu, sehingga kalau salah satu peristiwa di tiadakan, akan mengganggu jalan cerita. Dan yang ketiga adalah alur menanjak, yaitu jalan cerita dalam suatu karya sastra yang semakin menanjak sifatnya. Ada juga alur lain yang sering digunakan oleh pengarang novel yaitu sorot balik atau plash back.
Demikian uraian penulis mengenai plot, yang akan penulis jadikan landasan  untuk kajian  berikutnya.

c.          Perwatakan Karakter
Masalah penokohan dan perwatakan ini merupakan salah satu hal yang kehadirannya dalam sebuah pikiran amat penting dan bahkan menentukan, karena tidak akan mungkin ada suatu karya fiksi tanpa adanya tokoh yang diceritakan dan tanpa adanya tokoh yang bergerak yang akhirnya membentuk alur cerita.
Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu  yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan dapat diperoleh  dengan memberi gambaran  mengenai tindak tanduk  ucapan atau sejalan tidaknya antara apa yang di ucapan dengan apa yang di lakukan. Prilaku para tokoh dapat di ukur  melalui tindak-tanduk, ucapan ,  kebiasaan, dan sebagainya.
Setiap pengarang ingin membaca atau memahami tokoh atau perwatakan tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Ada dua macam cara yang dikemukakam oleh M. Atar Semi dalam memperkenalkan tokoh dan perwatakan tokoh dalam fiksi yaitu:
1)          Cara analitik, yaitu pengarang langsung memaparkan tentang watak atau karakter tokoh, pengarang menyebutkan bahwa tokoh tersebut keras hati, keras kepala, penyayang dan sebagainya.
2)          Cara dramatis, yaitu menggambarkan apa dan siapa tokoh itu tidak secara langsung, tetapi hak-hak lain, misalnya perbuatan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh.
“Watak adalah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakannya dengan tokoh lain sedangkan penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh.” (Sudjiman, 2002: 58).
Dalam mewujudkan tokoh dengan berbagai perwatakannya, penulis biasa menempuh dua cara ;
1)    secara langsung, pengarang langsung menyebutkan secara terperinci bagaimana tokoh itu baik perangai maupun tingkah laku dan perwatakan yang dimlikinya sang diciptakan pengarang;
2)    secara tidak langsung, pengarang mengungkapkan tokoh dengan perwatakannya dengan jalan memberi gambaran sifat, keadaan fisik, melakukan gerak-gerik. biasanya diungkapkan melalui percakapan antara tokoh dalam cerita tersebut.
Seorang tokoh sebagai pelaku utama dalam cerita tidak bermakna apabila tokoh tersebut tidak memiliki konflik, baik dengan tokoh lain, konflik fisik, atau dengan batin dirinya.  Tokoh atau penokohan dalam novel menurut Supriyadi (1997 : 411) dibedakan menjadi tiga karakter yaitu; protagonis adalah tokoh yang ingin menghadapi berbagai persoalan dalam mencapai cita-cita, antagonis adalah tokoh yang melawan protagonis, dan Tritagonis adalah tokoh sebagai pendamai protagonis dan antagonis.
Akhirnya dapat penulis simpulkan penokohan atau perwatak-watakan merupakan  kreatifitas  pengarang dalam membentuk personalia tertentu dalam karyanya melalui pelukisan pelaku dengan berbagai perwatakan.

d.  Pusat  Pengisahan (Point of View)
Di dalam pusat pengisahan akan tampak jelas sebagai siapa pengarang dalam sebuah novel atau sebagai apa pengarang berada dalam cerita yang diciptakan. “Yang dimaksud pusat pengisahan adalah hubungan yang terdapat antara pengarang dengan alam fiktif ceritanya,ataupun antara pengarang dengan alam pikiran atau perasaan pembacanya.” (Tarigan,1984:140).
M. Atar  Semi (2004: 57) mengatakan bahwa “pusat pengisahan adalah posisi dan penepatan diri pengarang dalam ceritanya, atau dari mana dia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat  dalam ceritanya itu.”
Untuk selanjutnya M. Atar Semi membagi pusat pengisahan dalam empat jenis yaitu:
1)    Pengarang sebagai tokoh cerita bercerita tentang keseluruhan kejadian atau peristiwa terutama yang menyangkut diri tokoh .
2)    Pengarang sebagai tokoh sampingan orang yang bercerita dalam hal ini adalah seorang tokoh sampingan yang menceritakan peristiwa yang bertalian ,terutama dengan tokoh utama cerita.
3)    Pengarang sebagai orang ketiga (pengamat) pengarang sebagai orang ketiga yang berada diluar cerita bertindak sebagai pengamat sekaligus sebagai narator yang menjelaskan peristiwa yang berlangsung serta suasana pemanasan dan pikiran para pelaku cerita.
4)    Pengarang sebagai pemain dan narator ,pemain yang bertindak sebagai pelaku utama cerita ,dan sekaligus sebagai narator yang menceritakan tentang orang lain disamping dirinya ,biasanya keluar masuk cerita,tetapi ketika yang lain ,iabertindak sebagai pengamat yang berada diluar cerita.

          Dari keempat jenis pusat pengisahan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri,maka uang mana yang paling baik dipilih oleh pengarang tentu bergantung pada pengkhususannya problem cerita. Namun pada kebanyakan pengarang modern, yang lebih menginginkan dirinya obyektif terhadap cerita, cendrung untuk memilih berada di luar daripada di dalam cerita.

e.  Latar dan Tempat Kejadian
Dalam menyajikan cerita, pengarang harus pandai memilih hal-hal yang  bermanfaat atau membantu, agar cerita menjadi lebuh hidup dan lebih meyakinkan pembaca. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dilakukan oleh pelaku harus memperbesar keyakinan pembaca terhadap sikap dan tindakan pelaku itu.Untuk melakukan hal demikian, pengarang harus memperhatikan setting atau latar.
M. Atar Semi (2004: 46) berpendapat bahwa “latar atau landasan tumpu (setting) adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi.” Sedangkan Liberatu Tengsoe Tjahjono (1997: 143) mengatakan yang dimaksud “latar atau setting dalam cerita adalah merupakan tempat,waktu,atau keadaan alam atau cuaca terjadinya suatu peristiwa.”
Sementara itu, Tarigan (2002: 136) berpendapat, bahwa yang dimaksud “latar atau setting adalah latar belakang fiksi, unsur tempat dan ruang adalah sebuah cerita.”
Latar sangat diperlukan sebagai salah satu bagian yang membentuk dan menentukan baik dan tidaknya sebuah cerita. Latar membantu menggambarkan watak para tokoh dan membantu memperjelas alur dan tema cerita.
Latar atau setting tidak terbatas hanya kepada lingkungan yang bersifat material semata, tetapi termasuk di dalamnya lingkungan sosial seperti adat kebiasaan, tatacara dan lingkungan sosial lainnya.
Dari beberapa pendapat di atas,dapat diambil kesimpulan bahwa setting atau latar pada dasarnya adalah tempat yang meliputi pelaku atau tempar terjadinya peristiwa. Tempat tersebut berhubungan pula dengan hal-hal yang ada di sekitarnya termasuk alat-alat atau benda-benda yang berhubungan dengan terjadinya peristiwa, waktu, iklim atau suasana atau priode sejarah.

f.  Gaya Bahasa
Gaya diambil dari istilah bahasa inggris style yang berasal dari bahasa latin stilus yang memiliki arti dasar alat untuk menulis. Sedangkan secara konsepsional gaya berarti cara, teknik, maupun bentuk yang digunakan pengarang untuk menyampaikan gagasan dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menciptakan nuansa makan dan perasaan pembaca.Gaya sesungguhnya merupakan perwujudan pribadi pengarangnya, sehingga masing-masing pengarang itu selalu memiliki gaya tersendiri yang berbeda dengan gaya pengarang lainnya.
Berhasil atau tidaknya seseorang pengarang fiksi, justru bergantung dari kecakapannya menggunakan gaya yang serasi dalam karyanya. Penggunaan majas ini sedikit banyak bergantung pada usia, pendidikan, pengalaman, temperamen, ketrampilan serta kecakapan para pelaku itu yang secara tidak langsung menuturkan cerita itu. Pengarang harus menentukan dengan tegas apakah pelaku itu berbicara atau menulis.
Sementara itu, M. Atar Semi (2004: 47) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “gaya adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa.” Tingkah laku berbahasa ini merupakan suatu sarana sastra yang amat penting. Tanpa bahasa, tanpa gaya bahasa, sastra tidak ada. Betapapun dua atau tiga orang pengarang, mengungkapkan suatu tema, alur, karakter, atau latar yang sama, hasil karya mereka akan berbeda bila gaya bahasa mereka berbeda.
Pembaca hendaklah dapat ikut serta secara imajinatif melalui mendengar, melihat, dan merasakan apa yang telah dilihat, didengar dan dirasakan oleh pengarang. Dengan kata lain, melalui gaya bahasanya pengarang harus mampu menghudupkan kembali kehidupan yang nyata yang telah menarik minatnya di dalam cerita fiksinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Keanggotaan Rp. 300.000,-
Suport System

Bonus Sponsor : Rp. 100.000,-
Bonus Grup : Rp. 30.000,-
Untuk 1 grup : 10 anggota
Bonus Anda : Rp. 100.000 + (10 x Rp. 30.000) = Rp. 400.000,-